Jakarta - Politisi Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP)
Trimedya Panjaitan menuding Dewan Perwakilan Daerah (DPD) yang menjadi
penyebab kekalahan Koalisi Indonesia Hebat (KIH) dalam pertarungan
pemilihan pimpinan Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) yang berlangsung
hingga Rabu (8/10) dini hari. Seharusnya, kata Trimedya, jika DPD solid
maka KIH yang akan memenangkan pemilihan tersebut.
“Kalau kita
hitung mungkin sekitar 60-70 (yang memilih paket Koalisi Merah Putih).
DPD-nya terpecah seperti itu, ya kita harus menerima,” katanya di
Kompleks Parlemen. Dia juga mengatakan adanya anggota DPD yang berasal
dari parpol yang mendukung KMP sehingga DPD tidak solid.
“Kalau di
PPP kita yakin solid,” imbuhnya. Selanjutnya, Trimedya mengaku bahwa
PDIP akan fokus pada pemilihan ketua komisi dan alat kelengkapan. ”
Sementara
anggota DPD I Gede Pasek membalas tudingan PDIP bahwa suara dari
DPD-lah yang banyak membantu perolehan suara dalam voting paripurna
pemilihan MPR dini hari tadi. “Kan selisihnya tadi cuma 17 suara. Kalau
tidak ada DPD, coba 70 suara saja, itu selisihnya akan banyak lagi.
Kalau timnya bagus tambah sembilan suara saja pasti sudah menang,” kata
Pasek.
I Gede Pasek menambahkan, hingga saat ini DPD sudah
memberikan peran besar DPD di parlemen. Bagi DPD, ujar I Gede Pasek itu
merupakan sumbangsih yang riil. “DPD sudah menjadi sejarah besar karena
sampai detik terakhir DPD tetap menjadi “bandul” penentu kemenangan,”
tambahnya.
Diketahui, pemilihan pimpinan MPR dimenangkan oleh
Koalisi Merah Putih (KMP) dengan jumlah suara 347 lembar. Sementara KIH
hanya mendapatkan 330 lembar. Selisih 17 lembar.
Terpilih sebagai
Ketua MPR periode 2014-2019 Zulkifli Hasan dari Fraksi PAN, dan Wakil
Ketua terdiri dari E.E. Mangindaan dari Fraksi Demokrat, Mahyudin dari
Fraksi Golkar, Hidayat Nur Wahid dari Fraksi PKS dan Oesman Sapta dari
DPD. (hiz/yud/B1/abr/dakwatuna)
